MAMPU BELAJAR DAN BELAJAR MAMPU
MAMPU BELAJAR DAN BELAJAR MAMPU
“Petualangan Alice di Wonderland” (biasa disingkat menjadi “Alice in Wonderland”) adalah novel yang ditulis di tahun 1865 oleh seorang penulis Inggris Charles Lutwidge Dodgson dengan nama samaran Lewis Carroll. Novel menceritakan seorang gadis bernama Alice yang terdampar di dunia fantasi (Wonderland) yang dihuni oleh berbagai makhluk antropomorfik aneh.
Di suatu kesempatan, Alice terlibat dalam percakapan yang menarik dengan Mad Hatter.
Alice: “Di mana sebenarnya aku harus menempatkan diri? Tidakkah orang biasa belajar dari hal-hal yang kurang baik, padahal mereka berusaha keras melakukan hal-hal baik?”
Mad Hatter: “He he he. Tidakkah kita selama ini hanya berputar-putar saja di seantero Wonderland ini? Namun, tidakkah kita selalu berakhir di titik awal dari mana kita berangkat? Justru aku sekarang memintamu menjelaskan pola ini, setidaknya kepada dirimu sendiri.”
Alice: “Ya, ya. Orang-orang yang mengaku dewasa biasanya menyuruh kita mencari tahu kesalahan apa yang telah kita lakukan, dan karenanya kita tidak pernah lagi melakukannya.”
Mad Hatter: “Hei, bukankah itu sangat aneh! Dalam pemahamanku, untuk tahu tentang sesuatu, tidakkah kau harus mempelajarinya lebih dulu? Dan ketika kau sudah berhasil mempelajarinya, tidakkah kau akhirnya menjadi lebih baik dalam perkara yang sebelumnya kau tidak tahu itu? Mengapa kau barusan bilang ingin menjadi lebih baik pada sesuatu, tetapi (dan kemudian) tidak pernah melakukannya lagi? By the way, coba kau teruskan penjelasanmu tentang hal ini kepada dirimu sendiri.”
Alice: “Tak seorang pun pernah memberitahu kita agar mempelajari kebenaran yang berhasil kita lakukan. Kita dipaksa belajar hanya dari hal yang salah. Sementara, kita ditargetkan untuk mempelajari hal yang benar sebagaimana dilakukan oleh orang lain. Tak jarang kita sekadar diminta untuk menyalinnya, meng-‘copy-paste’.”
Mad Hatter: “Jelas, itu curang, Alice!”
Alice: “Kau benar, Hatter. Aku memang hidup di dunia yang kocar-kacir. Sepertinya aku harus melakukan sesuatu yang salah terlebih dahulu, dalam rangka belajar tentang apa yang tidak boleh dilakukan; baru kemudian, dengan tidak melakukan hal yang seharusnya tak aku lakukan, seakan-akan dengan ini aku berhasil meraih posisi kebenaranku. Tapi, kalau aku harus memilih, AKU LEBIH SUKA MELAKUKAN HAL BENAR PADA KALI PERTAMA. Bukankah, begitu, Hatter?”
Cuplikan di atas bagi saya menjelaskan secara tepat, alasan di balik keluhan belasan ribu orangtua/guru tentang anak/siswa yang mereka kategorikan sebagai “tak mampu belajar”. Setelah saya telusur lebih dalam, keluhan-keluhan senada bahkan mengabaikan bagaimanapun hasil belajarnya, sehingga menurut hemat saya, keluhan mereka nampaknya bukan tentang anak/siswa yang “tak mampu belajar”, tetapi “tak mau belajar”; dan lebih khusus, “belajar” menurut paradigma yang dianut oleh para orangtua/guru. Pertanyaannya, mengapa anak/siswa tak mau belajar? Dan lebih tajam, mengapa anak/siswa menolak belajar?
Sejauh telaah saya, berlaku semacam logika dalam benak para orangtua/guru, yakni antara “mau belajar”, “mampu belajar”, dan “belajar kemampuan”. Jika dirangkai, “bila anak mau belajar, maka ia akan mampu belajar”; dan “bila anak mampu belajar, niscaya ia akan berhasil menguasai kemampuan tertentu”. Dari sini terbetik, betapa orang terlalu sering keliru menafsirkan apa yang mereka sebut sebagai "mampu" (memasak, menyapu, mengerjakan matematika, dsb.). Bagi mereka, “mampu” adalah akibat dari proses belajar (mencontoh, meniru), sehingga logikanya menjadi: “setelah ibu susah payah melatihku, akhirnya aku mampu menyelesaikan PR matematikaku.”
Padahal, kalau sekadar “mampu seperti itu”, yang diakui sebagai “kemampuan menyelesaikan soal matematika” sebenarnya bukan kemampuan, tapi sekadar "tiron" alias hasil tiruan atau imitasi terhdap kemampuan ibu. Perubahan dari kondisi tak mampu menjadi mampu sebenarnya terjadi bukan lantaran pelatihan yang diberikan, tetapi karena anak melakukan pembelajaran “dari dan terhadap” diri sendiri.
Setelah merefleksikan asal-usul terjadinya kemampuan, keterampilan, dan kemumpunian (kompetensi) belasan ribu kasus anak yang pernah saya tangani di bilik konsultasi Multiple Inteligence atau di lapangan, saya peroleh pemahaman bahwa sang pembelajar mampu belajar sesuatu bukan karena “pembelajaran dari” orang lain, melainkan karena “pembelajaran atas dan dari” diri sendiri.
Dengan demikian, pembelajar tak harus diawali dengan melakukan sesuatu yang salah terlebih dahulu, dengan maksud memaknai kesalahan. Sebab, pembelajaran tentang kesalahan saja tak membuat anak belajar tentang apa yang tidak salah. Artinya, pembelajar sebenarnya tidak belajar dari kesalahan dan kebenaran menurut versi otoritas manapun di luar diri mereka. Hal ini secara apik dan argumentatif diungkapkan oleh Allice, “..Tapi, kalau aku harus memilih, AKU LEBIH SUKA MELAKUKAN HAL BENAR PADA KALI PERTAMA.”
Jadi, sejago apa pun orangtua/guru pada perannya sebagai pendidik, pengajar atau pelatih, tetapi mereka mengasuh siswa/pembelajar yang tak belajar dari diri sendiri, muskil bagi mereka untuk berhasil mengajarkan kemampuan, keterampilan, dan kemumpunian tertentu. Hal ini diyakinkan dengan kian banyaknya siswa memiliki nilai rapor jeblok karena gagal, kalau tidak malahan menolak mengikuti ujian dalam format “ulangan umum”; tetapi sebaliknya, mampu menunjukkan kecemerlangan dalam berbagai modus pemecahan masalah.
Pengajar yang baik bukanlah orang yang unggul pada bidang kemampuan, keterampilan, dan kemumpunian tertentu, tetapi orang yang cermat membaca situasi dan kondisi pembelajar dan menawarkan teknik/metode yang tepat. Dan untuk menentukan teknik/metode mana yang tepat, orangtua/guru perlu memiliki peta tentang ketalentaan anak/siswa.
&&&&&&&&
ROMEOPOKER | AGEN POKER ONLINE | AGEN DOMINO99 ONLINE | AGEN BANDARQ
Tempat bermain poker online dan domino99 online paling besar di Indonesia.
Selain menjadi pemain, anda juga dapat menjadi bandar melawan pemain lain di permainan BandarQ dan Bandar Poker
DAFTAR SEKARANG dan mainkan 4 permainan populer tahun ini. Minimal pengisian chips ke akun hanya Rp 10.000 di Romeopoker.
Dapatkan juga jackpot di permainan Poker, Domino99 dan Bandar Poker.
4 Games Populer
Texas Poker, Domino99, BandarQ dan Bandar Poker.
Kami dapat dihubungi 24 jam di :
Livechat : www.romeopoker.com
BBM : D1BC1787
Line : 188ROMEOPOKER
Yahoo Messenger : csromeopoker



Comments
Post a Comment